#RandomTalk What Do You Want To Do?

When we were a kids, people used to asked us about what or who we wanted to be when we grow up. And most of us, as a positive-minded kid, would answer it with a smile on our faces.

“I want to be a teacher!”

“I want to be a doctor so that I can help people!”

Or..

“I want to be an astronaut!”

But, what about now?

What do you want to be?

Continue reading “#RandomTalk What Do You Want To Do?”

Advertisements

Untuknya.

Untuknya yang menua dari belanga lara, dan aku yang membisu dalam satuan waktu semu

Untuk kita bicara, untuk menerka hidup dengan jari-jari nyaris patah, untuk kita yang latah akan dunia.
Untuknya yang menua di ujung laut sana, dan aku yang terpaku pada senja

Untuk kita berdua, yang sama, tanpa mengenal nama.
Mari robek kepala kita

Tarik jantung kita

Lalu tuliskan, resah apa yang kian membara?

Dalam rentetan kata tanpa makna

Dengan syair lagu tanpa nada.
Untuk kita, yang menua bersama tanpa mengenal nama.

……………

Aku berteduh pada sendu, sejak larik terakhir sajakku menepi pada sisi senja kelabu

dan aku, kini meniti asa dalam panji tanpa dasar

mengukir epitaf untuk rasa yang terkubur dalam diam.
Itu adalah aku, aku yang ingin hentikan hujan di bulan juni

aku yang ingin mengukur jarak rindu dan biru

aku yang patah di babak awal

aku yang t’lah berhenti meniti asa dalam panji

aku yang t’lah lama ingin mati.

Just if

Sayup aku dengar, sepi menderu dari balik jendela kamar

dari balik halaman buku terbakar

dari hening yang setubuh dengan aku

kamu

kita

dia

manusia

semesta.
Ah, bila sampai waktuku tiba

buang namaku dari puncak tertinggi himalaya

bakar tiap jengkal potretku tanpa berkata-kata

sebab kala darahku mengering

namaku, tak lebih dari huruf tanpa jiwa.
Maka lupakanlah

aku yang setubuh dengan sepi

aku yang tak lagi menderu dari balik jendela kamarmu.
Lalu kamu, bila sampai waktumu tiba

buanglah namamu bersamaku

kita membusuk bersama tanpa nama.

Ia….

Ia tenggelam dan terbakar

Meringkuk dalam kubangan hitam; membusuk sendirian.

Namun ia tak mati.

Ia hendak mengeluh pada Tuhan, “Kenapa tak Kau cabut saja nyawaku? Lempar aku ke neraka, dunia lebih busuk dari kumpulan setan telanjang!”

Namun ia tetap tak mati.

Ia merintih sendiri.

aku…..

Aku menyerah, sebab kini aku telah patah

terpapa merangkak tanpa kaki

meringkuk di sudut tergelap semesta

menghitung hari

menjamah sepi

menanti mati.

Lagi

Gadis itu berhenti berharap

sejak noktah bahagianya menjelma tawa tanpa jiwa

sejenak mimpinya mengabur; menyatu tanah, sia-sia.
Gadis itu berhenti berkata

sejak huruf yang ia tulis dengan darahnya, mengering di ujung malam

lagi, sia-sia.

Sejenak saja

Rinai menjeda detik dalam deru

lantas sejenak, aku lupa akan kamu

hanya sejenak

setelah itu

aku kembali pilu

(hendak aku berdoa pada Tuhan, “matikanlah rasa ini dan buat aku lupa akan nama yang bahkan tidak mengenalku”

namun hanya sejenak

dada ini kembali pengap).

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑